Sabtu, 31 Desember 2011

Love You, Ayahku

Baru saja aku pulang, membuka pintu kamar, masuk, dan menutupnya. Kunyalakan laptop dan mengerjakan sesuatu menggunakannya. Tak lama kemudian ayah memanggilku,"Dyth, dytha." ,
"iya, Papa?", sahutku dari dalam kamar.
"Kesini dulu sebentar." pinta ayahku yang berada di lantai bawah. Aku pun segera keluar dari kamar dan menghampirinya. Ia sudah berada di depan tangga.
"Gejala pengapuran itu apa ya, Dyth?" Tanya ayahku. "Biasanya sama dengan asam urat, Pa. Tapi sendinya kaku. Ada apa, Pa?"
"Itu, Om mu tadi menghubungi papa, katanya kena pengapuran." Jelasnya dengan raut wajah khawatir, "Kayaknya papa kena ini, gejalanya sama." Tambahnya. Masih dengan wajah yang kutahu itu "kekhawatiran."
"Insya Allah tidak, Pa. Coba besok kita periksa ya, Pa.", Hiburku. Ayahku hanya berusaha menutupi kekhawatirannya dan pergi menuju kamarnya. Ya, aku tahu betul, ia sangat khawatir.
Aku bergegas membuatkannya jus sirsak, minuman rutinnya untuk mengobati asam urat yang sudah lama ia derita. Begitu selesai membuatnya, kuantarkan minuman itu menuju kamarnya.
"Tok tok tok", kuketuk pintu kamarnya. Aku tahu ia baru saja selesai sholat isya, namun mungkin masih berdiam sebentar untuk memanjatkan do'a. Kubuka pintu kamarnya perlahan. Kutemukan ia masih terduduk di atas sajadah sambil bersandar ke tempat tidur seraya meraba-raba tiap persendiannya, terutama lututnya yang sering membuatnya harus sholat dalam posisi duduk. Hatiku menangis menyaksikannya. Wajahnya nampak lesu.
"Kenapa Papa sayang?" Kuhampiri dirinya, duduk di sampingnya.
"Iya, ini kayaknya papa pengapuran, Dyth. Gejalanya sama dengan om mu." Jawabnya sambil meraba lututnya yang masih membengkak.
"InsyaAllah bukan, Pa. Besok kita periksa ya, Pa." Aku masih berusaha menghiburnya, sambil sesekali memijat-mijat kakinya. "Ini jus nya ya, Pa." Kuletakkan minuman itu di meja diatas ranjangnya.
"Terimakasih ya, Nak."
Aku pun segera keluar dari kamar ayah dan menutup pintunya perlahan. Berusaha menahan tangis hingga sampai ke kamarku. Aku tak tahan melihat seorang ayah yang tak pernah terlihat sedih, tak pernah terlihat lemah, selalu berusaha kuat dan ceria, tiba-tiba terduduk lemas karena khawatir akan penyakitnya. Ayah, aku mencintaimu dengan sangat. Jangan sakit, ayah sayang. Tetap semangat berjuang mencari nafkah untuk ibunda dan anak bungsumu ini, ayah. Maafkan aku bila masih akan memberatkanmu dengan biaya kuliah yang tak sedikit untuk 2,5 tahun ke depan. Mohon maaf, Ayah sayang. Love you as always.

0 komentar: