Minggu, 13 November 2011

Teruntuk Lidya

Sabtu, 12/11/2011
04.41 pagi, telepon genggamku berdering. aku pun segera terbangun dan menjawab panggilan itu. Kulihat di layar, "nomor yang tak kukenal", bisikku dalam hati.
"Andi, Mamaku kritis." Kalimat yang terlontar bersamaan dengan tangisan itu menyeruak dan membangunkanku dari serpihan-serpihan mimpi sebelumnya.
Dialah Lidya, sahabatku. Ibunda tercintanya itu memang sudah beberapa hari ini berada di rumah sakit. Betapa aku tersentak menerima telepon darinya saat itu. Air mataku rasanya ingin segera terluap, namun kucoba untuk menahannya, karena aku harus menguatkan sahabatku itu. Jika aku saja menangis, bagaimana aku menguatkannya? Lantas, seraya menahan tetesan airmata itu, kuberikan Ia semangat dan do'a sebanyak-banyaknya, agar Ia merasa lebih tenang.

06.24, telepon genggamku berbunyi lagi. Kali ini, nomor lainnya yang tak kukenal. Segera kujawab panggilan itu. Beberapa detik terangkat, hanya jerit tangisan dari banyak orang di seberang sana yang kudengar. "Iya, Lid?", yakinku bahwa itu adalah Lidya. "An.. Andi.. Mama udah nggak ada, Ndi.. Barusan." Ucapnya yang tak kuasa menahan kesedihannya hingga aku pun tak kuasa lagi menahan tangis. "Inna lillaahi wa inna ilaihi rooji'un." Aku hanya bisa memberikan do'a untuk ibunda agar Ia mendapatkan tempat yang lapang di sisi Allah swt dan Lidya sahabatku, beserta ayah, kakak, dan adiknya senantiasa bersabar dan mendapatkan limpahan rahmat dariNya.

Allah swt mengetahui yang terbaik untuknya dan untukmu. Maka, segala hal pasti berakhir dengan baik. Maka bila ia harus meninggalkan kita, itulah yang terbaik untuknya, dan bila kita harus menerima dengan hati yang sabar dan ikhlas, maka itulah yang terbaik bagi kita.
Allah swt, Dialah yang akan menjaga ibunda. Ia akan menjaga ibunda di sisiNya. Ibunda akan menyaksikan kesuksesanmu dengan senyum simpulnya, karena ia bangga akan dirimu, anak sholehah, sahabatku yang tegar, Lidya.

0 komentar: